Train ninjas and save the world from evil on NinjaManager.com! Samurai Of Legend RPG!

Minggu, 14 November 2010

proposal..proposalll..

ga nyangka dah semester 9 nieh...dah waktunya skripsian...tpi sbelum tu proposal dulu dunk...bingung nyari kajian teori/kajian pustaka..apa itu ala ayuning dewasa, apa itu wewaran...wehehehe...nie sedikit info yg nyolong dari blog sebelah..wakakaka...
  • Ala Ayuning Dewasa
Menurut Lontar Wewaran, dalam melaksanakan kegiatan agama, tidak semata-mata berpedoman pada ala-ayuning dewasa yang termuat di kalender Saka-Bali.
Para Sulinggih diberikan pedoman agar meneruskan kepada umatnya bahwa ada rumus sbb.: Wewaran (ekawara, dwiwara, triwara, dst; dalam hal ini “pasah” adalah triwara yang patut dihindari karena berada dalam aksara “mang” yakni akhir = pralaya), dapat diabaikan bila di hari itu ada penanggal atau sukla-paksa yakni hari-hari setelah tilem menuju ke purnama.
Bila bukan penanggal (misalnya panglong = kresna-paksa: hari-hari dari purnama ke tilem) inipun dapat diabaikan bila sasihnya baik untuk upacara ybs.
Bila sasihnya juga kurang baik (misalnya sasih mala: jiesta dan sadha) toh masih dapat diabaikan bila hari itu odalan atau dalam rangka odalan (Ida Bhatara belum mesineb), ini namanya “triodasa sakti”. Akhirnya semua itu dapat diabaikan, di mana keputusan terakhir diambil berdasarkan anumana pramana (kesimpulan suci seorang Sulinggih) yang disebut “manah”.

  • Wewaran
Perkataan DEWASA berasal dari bahasa Sanskerta: DIV artinya “Sinar” kemudian menjadi DEVA (arti yang ke-3: sama dengan Dewa, yaitu manifestasi Hyang Widhi) dan menjadi DIVASA (arti yang ke-4: langit, sorga, hari).
Perkataan Divasa, berkembang di Bali menjadi DEWASA atau PADEWASAAN, atau WARIGA DEWASA, yaitu pemilihan hari baik untuk menuju jalan yang mulia berdasarkan posisi dan peredaran benda-benda langit di angkasa: matahari, bulan, dan bintang.
Hal-hal mengenai padewasaan bersumber pada Wedangga, khususnya lontar-lontar Jyotisa, BUKAN PRASASTI. Prasasti artinya catatan sejarah atau tulisan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu yang dianggap penting oleh penguasa (Raja atau pejabat lain) di zaman lampau.
Selanjutnya, PADEWASAAN ditetapkan berdasarkan ketentuan wariga sebagai berikut: WEWARAN alah dening WUKU, Wuku alah dening TANGGAL PANGELONG, tanggal pangelong alah dening SASIH, Sasih alah dening DAWUH, dawuh alah dening WETU (Wetuniya Sanghyang Triodasa Sakti).
Yang dimaksud dengan wewaran adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai URIP/ NEPTU, TEMPAT, dan DEWATA yang dominan. Semua unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan (baik-buruknya dewasa).
Wuku adalah Sinta, Landep, Ukir, dan seterusnya, yang masing-masing juga mempunyai urip/ neptu, tempat dan dewa yang dominan, juga ke semuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan.
Yang dimaksud dengan tanggal atau penanggal adalah hari-hari sejak TILEM sampai PURNAMA sedangkan Pangelong adalah hari-hari sejak PURNAMA sampai TILEM.
Padewasaan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
1.      Padewasasan menurut catur laba (empat akibat: baik – buruk – berhasil – gagal)
2.      Padewasaan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda)
3.      Padewasaan berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita)
4.      Padewasaan berdasarkan wewaran, penanggal, dan pangelong (misalnya: Amerta dewa, yaitu Sukra penanggal ping roras, baik untuk semua upacara)
Yang dimaksud dengan sasih adalah Kasa, Karo, Katiga, dan seterusnya sampai Sada. Padewasaan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan, yadnya, dll.
Yang dimaksud dengan dawuh adalah waktu/ jam menurut perputaran bumi pada sumbunya, yaitu berulang setiap 24 jam dimulai sejak terbitnya matahari jam 05.30.
Yang dimaksud dengan kalimat “alah dening” adalah “kalah dengan” atau ditafsirkan lebih lengkap sebagai “pertimbangkan juga…”
Pelaksanaan padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:
1.      Padewasaan sadina artinya sehari-hari, dan
2.      Padewasaan masa artinya berkala.
Padewasaan sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku). Semut sadulur adalah padewasaan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon.
Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung.
Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu.
Di samping itu ada juga dewasa YANG TIDAK BAIK untuk atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/ Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan, Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang BUKAN Semut Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk menanam mayat atau makingsan di Gni saja masih dibolehkan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar