- Ala Ayuning Dewasa
Menurut Lontar Wewaran, dalam melaksanakan kegiatan agama, tidak semata-mata berpedoman pada ala-ayuning dewasa yang termuat di kalender Saka-Bali.
Para Sulinggih diberikan pedoman agar meneruskan kepada umatnya bahwa ada rumus sbb.: Wewaran (ekawara, dwiwara, triwara, dst; dalam hal ini “pasah” adalah triwara yang patut dihindari karena berada dalam aksara “mang” yakni akhir = pralaya), dapat diabaikan bila di hari itu ada penanggal atau sukla-paksa yakni hari-hari setelah tilem menuju ke purnama.
Bila bukan penanggal (misalnya panglong = kresna-paksa: hari-hari dari purnama ke tilem) inipun dapat diabaikan bila sasihnya baik untuk upacara ybs.
Bila sasihnya juga kurang baik (misalnya sasih mala: jiesta dan sadha) toh masih dapat diabaikan bila hari itu odalan atau dalam rangka odalan (Ida Bhatara belum mesineb), ini namanya “triodasa sakti”. Akhirnya semua itu dapat diabaikan, di mana keputusan terakhir diambil berdasarkan anumana pramana (kesimpulan suci seorang Sulinggih) yang disebut “manah”.


